![]() |
| Panduan Penerapan ESG untuk Kampus Berkelanjutan |
Kampus yang mengintegrasikan Environmental, Social, dan Governance bukan sekadar mencetak lulusan berijazah, melainkan pemimpin yang bertanggung jawab terhadap masa depan.
Cherbonnews.com | Dalam beberapa tahun terakhir, konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) telah mengalami transformasi dari sekadar jargon korporat menjadi kerangka kerja fundamental yang membentuk operasi organisasi di berbagai sektor. Sementara penerapan ESG paling sering dibahas dalam konteks perusahaan dan investasi, institusi pendidikan tinggi justru memegang peran yang lebih strategis dan berdampak luas.
Universitas dan kolese tidak hanya bertugas mencetak generasi pemimpin masa depan, tetapi juga beroperasi seperti organisasi kompleks dengan jejak ekologis, tanggung jawab sosial, dan tata kelola yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan.
Memahami Kerangka ESG di Konteks Pendidikan Tinggi
ESG merupakan serangkaian aspek yang dipertimbangkan ketika mengevaluasi kinerja dan dampak suatu organisasi, yang merekomendasikan untuk mempertimbangkan masalah lingkungan, masalah sosial, dan masalah tata kelola perusahaan. Istilah ini pertama kali dipopulerkan dalam laporan tahun 2004 berjudul "Who Cares Wins", yang merupakan inisiatif bersama lembaga keuangan atas undangan PBB.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kerangka ESG memberikan lensa komprehensif untuk menilai dampak operasional kampus, praktik akademik, dan keterlibatan masyarakat. Bagi audiens internasional, penting untuk dicatat bahwa prinsip ESG telah diadopsi secara global dengan standar dan kerangka kerja seperti Global Reporting Initiative (GRI), Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD), dan IFRS S1 & S2.
Environmental: Jejak Ekologis Kampus dan Tanggung Jawab Lingkungan
Aspek lingkungan dalam ESG mencakup komitmen universitas terhadap perlindungan ekosistem, pengelolaan sumber daya, dan mitigasi perubahan iklim. Bagi institusi pendidikan, ini melampaui sekadar kepatuhan regulasi dan menyentuh inti dari misi pendidikan untuk menjadi penatalaku lingkungan yang bertanggung jawab.
Beberapa universitas terkemuka di Indonesia telah memulai inisiatif konkret dalam domain lingkungan. Universitas Sanata Dharma (USD), misalnya, telah mengintegrasikan isu-isu lingkungan ke dalam kurikulum melalui konsentrasi baru MM ESG & Sustainability yang mencakup topik seperti GHG Protocol (dan kalkulasi karbon), SBTi, CDP, perdagangan karbon, strategi mitigasi dan adaptasi iklim, serta solusi berbasis alam.
Pendekatan operasional terhadap aspek lingkungan meliputi:
- Transisi energi terbarukan dengan investasi dalam panel surya, turbin angin, atau pembangkit listrik biomassa
- Infrastruktur hijau melalui gedung-gedung berstandar efisiensi energi, sistem pengelolaan air berkelanjutan, dan pengurangan jejak karbon
- Pengelolaan limbah yang komprehensif dengan program daur ulang dan pengurangan sampah plastik
- Pelestarian keanekaragaman hayati dengan mengembangkan kawasan kampus sebagai ruang hijau yang mendukung ekosistem lokal
Social: Membangun Komunitas Inklusif dan Bertanggung Jawab Sosial
Dimensi sosial dalam ESG berfokus pada penciptaan lingkungan kampus yang inklusif, adil, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat sekitar. Aspek ini mencakup kebijakan penerimaan yang berkeadilan, perlindungan hak-hak tenaga pendidik, dan keterjangkauan pendidikan.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab unik dalam domain sosial karena mereka membentuk nilai dan perilaku generasi berikutnya. Program Sustainable Performance Leadership Program (SPLP) - Mini MBA ESG yang diselenggarakan oleh IPB University bekerja sama dengan Kompas Gramedia menekankan pentingnya peserta memahami bagaimana berbagai pemangku kepentingan - mulai dari investor, pelanggan, karyawan hingga regulator - melihat dan menilai ESG.
Implementasi praktis dari aspek sosial meliputi:
- Program beasiswa dan bantuan keuangan untuk menjamin akses pendidikan yang merata
- Rekrutmen dosen dan staf yang mencerminkan keberagaman dan inklusi
- Kebijakan responsif gender dan anti-pelecehan
- Kemitraan dengan masyarakat lokal melalui program pengabdian dan pemberdayaan
- Kesehatan mental dan dukungan kesejahteraan bagi mahasiswa dan staf
Governance: Tata Kelola Transparan dan Akuntabel
Aspek tata kelola seringkali menjadi fondasi yang memungkinkan kedua pilar ESG lainnya berfungsi efektif. Dalam konteks pendidikan tinggi, tata kelola yang baik mencakup transparansi pengambilan keputusan, akuntabilitas finansial, dan etika institusional.
Kurikulum MM ESG-Sustainability di Universitas Sanata Dharma secara khusus mencakup mata kuliah Business Ethics and Organizational Governance yang membahas prinsip-prinsip tata kelola berkelanjutan. Selain itu, program Sustainable Performance Leadership Program IPB University juga membahas secara khusus topik "Who's in Charge of ESG in a Company?" yang membahas tanggung jawab tata kelola ESG dalam struktur organisasi.
Elemen-elemen kunci tata kelola ESG di lingkungan kampus:
- Struktur dewan yang mencerminkan keberagaman dan independensi
- Kebijakan investasi endowment fund yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan
- Protokol anti-korupsi dan konflik kepentingan
- Pelaporan keberlanjutan yang terintegrasi dengan laporan tahunan
- Saluran pengaduan yang aman dan responsif untuk pelanggaran etika
Integrasi ESG ke dalam Kurikulum dan Kultur Akademik
Salah satu inovasi paling promising dalam pendidikan ESG adalah pendekatan pracademics, yang merupakan gabungan antara practical approaches dan akademis. Melalui banyak studi dari kasus nyata dan latihan menggunakan tool-tool berkaitan dengan ESG, CSR, dan Sustainability, mahasiswa melakukan perancangan strategis, pembuatan roadmap, communication strategies, sampai dengan Sustainability & ESG Reporting.
Universitas Sanata Dharma telah memelopori pendekatan ini melalui program MM ESG-nya, dengan kurikulum yang dirancang bersama Institute for Sustainability Agility (ISA) yang dipimpin oleh Maria Rosaline Nindita Radyati, PhD, seorang pelopor dalam desain kurikulum MM Sustainability dan pakar bidang ESG/Sustainability di Indonesia.
Experiential Learning: Kampus sebagai Laboratorium Hidup
Pendekatan experiential learning menjadi inti dari program-program ESG yang sukses, dimana peserta terlibat langsung dalam aksi nyata melalui action learning program. Konsep "kampus sebagai laboratorium hidup" memungkinkan mahasiswa untuk mengaplikasikan teori ESG dalam konteks nyata.
Dalam program Sustainable Performance Leadership Program IPB University, peserta terlibat dalam sesi praktik dimana mereka dibagi dalam kelompok untuk memetakan faktor-faktor ESG yang pernah ditemui dan dilakukan di perusahaan mereka. Aktivitas ini melibatkan diskusi interaktif untuk mengidentifikasi isu-isu material, mengkategorikan topik ESG berdasarkan dampak strategis, dan menyusun rencana tindakan.
Tantangan Implementasi ESG di Lingkungan Pendidikan Tinggi
Salah satu tantangan signifikan dalam implementasi ESG adalah kompleksitas standar dan kerangka pelaporan yang berbeda-beda. Ahmad Zaki, S.E., M.Acc., Ph.D., dosen Prodi Akuntansi FEB UGM, menyoroti bahwa di level internasional terdapat standar pelaporan keuangan seperti IFRS S1 dan IFRS S2, dan Indonesia juga telah membentuk Dewan Standan Akuntansi Keberlanjutan.
Namun, Zaki juga mengingatkan potensi masalah jika standar tersebut hanya dijadikan "kotak-kotak" yang harus dipenuhi perusahaan. Ia menekankan pentingnya standar yang adaptif, dimana perusahaan tidak hanya mengejar standar untuk dipenuhi, tetapi kehilangan substansi dari aktivitas sosial, lingkungan, dan tata kelola yang seharusnya dilakukan.
ESG Assurance dan Tantangan Kredibilitas
Ketika KAP melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan, yang diaudit adalah laporan keuangannya saja. Jika di dalamnya ada disclosure sustainability, maka sustainability report itu sendiri memang tidak diberikan assurance. Ini menciptakan tantangan kredibilitas dalam pelaporan ESG.
Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D., CFE, dosen Prodi Akuntansi FEB UGM, menjelaskan bahwa assurance dalam konteks ESG lebih bersifat review terbatas terhadap aspek pengungkapan. Inisiatif global yang penting adalah hadirnya ISA 5000 (International Standard Sustainability Assurance) yang bersifat principle-based, bukan rule-based, sehingga ruang lingkup assurance lebih fleksibel.
Peluang dan Masa Depan ESG di Pendidikan Tinggi
Permintaan dari investor telah mendorong perusahaan semakin aktif dalam mengungkapkan informasi ESG. Investor kini ingin melihat sejauh mana perusahaan taat pada prinsip-prinsip ESG, terutama dalam kaitannya dengan pembiaayaan. Tren ini menciptakan permintaan pasar untuk lulusan yang memahami prinsip-prinsip ESG dan dapat menerapkannya dalam pengambilan keputusan bisnis.
Program MM ESG-Sustainability di Universitas Sanata Dharma secara eksplisit ditujukan bagi para (calon) manajer agar memiliki keterbukaan pikiran, hati, dan kehendak terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola serta keberlanjutan. Melalui mata kuliah yang diberikan oleh tim pengajar yang kompeten dan melibatkan banyak praktisi, para mahasiswa dipandu agar mampu menjadi pemimpin dalam ESG/Sustainability.
Inovasi Kurikulum dan Kolaborasi Lintas Sektor
Masa depan ESG dalam pendidikan tinggi terletak pada kemampuan institusi untuk berinovasi dalam kurikulum dan membangun kolaborasi lintas sektor. Kurikulum MM ESG-Sustainability pada USD didesain dengan pendekatan pracademics, yang merupakan gabungan antara practical approaches dan akademis.
Kolaborasi dengan Institute for Sustainability Agility (ISA) memungkinkan mahasiswa untuk melakukan internship di berbagai perusahaan yang menjadi mitra ISA. Pendekatan ini memastikan bahwa pendidikan ESG tidak terisolasi dalam menara gading akademisi, tetapi terhubung dengan tantangan dan praktik terbaik di dunia nyata.
Menuju Transformasi Berkelanjutan Pendidikan Tinggi
Penerapan prinsip ESG dalam manajemen kampus bukanlah sekadar tren, melainkan suatu keharusan strategis untuk memastikan bahwa institusi pendidikan tinggi tetap relevan dan responsif terhadap tantangan global. Pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam operasional, kurikulum, dan kultur kampus akan menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih resilien, inklusif, dan bertanggung jawab.
Ketika universitas mampu mempraktikkan apa yang mereka ajarkan - ketika kampus menjadi living laboratory untuk prinsip-prinsip keberlanjutan - mereka tidak hanya mengurangi jejak ekologis dan meningkatkan dampak sosial, tetapi juga mencetak lulusan yang akan menjadi agen perubahan di berbagai sektor masyarakat.
Transformasi menuju kampus yang berkelanjutan memerlukan komitmen jangka panjang, kepemimpinan visioner, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan. Namun, hasilnya sepadan dengan investasi yang dikeluarkan: sebuah institusi pendidikan yang tidak hanya excellence in education, tetapi juga exemplary in practice, yang mempersiapkan generasi penerus untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dan adil.
