Kunjungan Gubernur Jawa Barat ke Padang Hasilkan Komitmen Pembangunan Permukiman Baru untuk Korban Banjir

Gubernur Jawa Barat Bangun Permukiman Korban Banjir Padang
Gubernur Jawa Barat Bangun Permukiman Korban Banjir Padang

Cherbonews.com | Padang, Sumatera Barat
– Dalam wujud solidaritas antardaerah, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengunjungi Kota Padang pada Kamis, 4 Desember 2025, dan berkomitmen untuk membangun permukiman baru bagi warga yang kehilangan rumah akibat banjir bandang yang melanda.

Gubernur Mulyadi, yang akrab disapa KDM, bertolak langsung ke lokasi terdampak parah, termasuk Lingkungan Gunung Nago. Tergerak oleh skala kerusakan dan penderitaan warga, dia mengusulkan pembangunan permukiman khusus bagi keluarga yang mengungsi.

Bantuan Langsung dan Visi Jangka Panjang

Kunjungan ini merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang lebih luas ke tiga provinsi di Sumatera. Delegasi Gubernur membawa total bantuan sekitar Rp 7 miliar, yang bersumber dari Pemerintah Daerah Jawa Barat, asosiasi pengusaha, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

  • Pengadaan di Lokasi: Untuk efisiensi dan mendukung ekonomi lokal, tim berencana membeli sebagian besar kebutuhan logistik, seperti bahan makanan, langsung di Padang sebelum mendistribusikannya ke daerah lain.
  • Akses ke Daerah Terpencil: Dua pesawat dari Susi Air telah disewa untuk mengantarkan bantuan ke komunitas terisolir yang sulit dijangkau.

Dalam kunjungannya, Gubernur Mulyadi menekankan kesedihan dan tanggung jawab bersama. "Ini adalah duka kita bersama. Sudah sepantasnya kita saling membantu. Mari kita bangkit bersama," katanya kepada warga di sebuah pos pengungsian.

Skala Bencana yang Melanda

Banjir yang dipicu oleh kejadian hidrometeorologi ekstrem ini telah menyebabkan kerusakan signifikan di Padang. Berikut adalah tabel ringkasan dampaknya berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat:

Kategori Dampak Jumlah
Total Penduduk Terdampak 31.845 jiwa
Individu yang Mengungsi 4.456 jiwa
Korban Meninggal Dunia 12 orang
Unit Rumah & Fasilitas Umum Rusak Lebih dari 100 unit

Sebuah Misi Pribadi dan Filosofis Seorang Gubernur

Kunjungan ini memiliki makna pribadi bagi Gubernur Mulyadi, yang hingga saat ini belum dapat menghubungi anggota keluarganya di Aceh yang juga terdampak banjir. Filosofi politiknya, yang berakar kuat pada nilai-nilai tradisi Sunda, menekankan harmoni spiritual dengan alam dan peran pemimpin sebagai seorang sesepuh (pupuhu) yang terhubung secara intrinsik dengan rakyatnya. Pandangan ini membingkai bencana bukan hanya sebagai krisis fisik, tetapi sebagai keretakan dalam hubungan manusia-alam.

Sejak terpilih pada Februari 2025, Mulyadi mempertahankan rating kepuasan publik yang sangat tinggi di Jawa Barat, yang baru-baru ini tercatat sebesar 97,2%.

Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, menyampaikan terima kasih yang mendalam atas dukungan ini. "Terima kasih, Pak Gubernur. Kehadiran dan dukungan Bapak sangat berarti bagi kami," ujarnya, menyambut baik usulan pembangunan permukiman baru tersebut.

Langkah Selanjutnya

Usulan pembangunan permukiman baru kini menunggu tindak lanjut dari pemerintah kota Padang, yang harus mengidentifikasi lahan yang sesuai untuk proyek tersebut. Misi Gubernur Mulyadi menyoroti tren bantuan antardaerah yang semakin berkembang dalam respons Indonesia menghadapi bencana alam yang semakin sering terjadi.

Catatan Editor

Dari perspektif keilmuan administrasi publik dan manajemen bencana, respons gubernur, meski simpatik, mengungkap pola klasik dalam tata kelola Indonesia:

  • Pendekatan yang Reaktif vs. Proaktif: Bantuan besar pascabencana sering kali mengesampingkan investasi kritis dalam mitigasi dan penegakan tata ruang berbasis risiko di masa normal.
  • Tantangan Koordinasi Kelembagaan: Komitmen pembangunan antardaerah berpotensi menimbulkan kompleksitas koordinasi, tumpang tindih kewenangan, dan masalah keberlanjutan pemeliharaan aset.
  • Legitimasi Politik vs. Akuntabilitas Teknokratik: Modal politik yang tinggi perlu ditransformasikan menjadi akuntabilitas yang diukur dari efektivitas program, efisiensi anggaran, dan hasil jangka panjang yang transparan.

Rekomendasi Kunci: Momentum solidaritas ini harus segera diarahkan ke kerja kolaboratif yang terstruktur, melibatkan partisipasi masyarakat terdampak, dan dipandu oleh rencana induk pemulihan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola untuk membangun ketangguhan sesungguhnya.

Oleh: Divisi Politik, Hukum dan HAM
Disetujui oleh: Pimpinan Redaksi Cherbon News

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama