Overton Window: Strategi NU Menggeser Batas Wacana Publik untuk Kemaslahatan

Overton Window dan Strategi Politik NU
Kaji peran NU menggeser wacana publik lewat Overton Window. Strategi politik kultural organisasi Islam terbesar.

Cherbonnews.com | Dalam spektrum ide politik suatu masyarakat, dari yang paling radikal hingga yang telah menjadi kebijakan resmi, selalu ada rentang ide-ide tertentu yang dianggap dapat diterima secara publik pada suatu waktu. Overton Window atau Jendela Overton adalah konsep yang menjelaskan dinamika ini. Ia menyatakan bahwa politikus dan pelaku politik umumnya akan beroperasi dalam batas-batas "jendela" penerimaan publik ini untuk menjaga elektabilitas mereka.

Pertanyaan strategisnya, siapa yang sesungguhnya menggerakkan jendela wacana ini? Menurut teori aslinya, kekuatan utama bukanlah politikus, melainkan evolusi nilai dan norma masyarakat yang digerakkan oleh institusi sosial—seperti lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, media, dan dunia pendidikan. Di sinilah peran organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) menjadi krusial. Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dengan basis puluhan juta warga nahdliyin di Indonesia, NU bukan sekeping batu dalam arus wacana, melainkan salah satu aktor yang aktif dan strategis dalam membentuknya.

Artikel ini akan mengupas tuntas konsep Overton Window dari perspektif politik dan mengaitkannya dengan tata kelola serta strategi organisasi NU. Kita akan menelusuri bagaimana NU, melalui berbagai instrumentasinya, berperan dalam menggeser batas wacana publik di Indonesia menuju nilai-nilai yang substantif, menjaga keutuhan bangsa, dan menghindarkan politik dari eksploitasi identitas yang sempit. Pemahaman ini penting bagi kita sebagai warga NU untuk menyadari posisi strategis serta tanggung jawab dalam membingkai percakapan kebangsaan yang sehat dan bermartabat.

Memahami Konsep Overton Window: Jendela Kemungkinan Politik

Overton Window adalah sebuah model untuk memahami bagaimana ide-ide dalam masyarakat berubah seiring waktu dan mempengaruhi politik. Inti konsepnya adalah bahwa politisi dibatasi oleh ide-ide kebijakan yang dapat mereka dukung—umumnya mereka hanya akan memperjuangkan kebijakan yang diterima secara luas oleh masyarakat sebagai pilihan kebijakan yang sah. Kebijakan-kebijakan ini berada di dalam Jendela Overton. Gagasan lain mungkin ada, tetapi politisi berisiko kehilangan dukungan publik jika mengusungkannya. Gagasan-gagasan ini berada di luar jendela.

Konsep ini dinamai dari Joseph P. Overton, seorang analis kebijakan Amerika dari Mackinac Center for Public Policy, yang mengembangkannya pada pertengahan 1990-an. Ia berargumen bahwa kelayakan politik suatu gagasan terutama bergantung pada apakah gagasan itu berada dalam rentang penerimaan, bukan pada preferensi individual politisi.

Spektrum dan Kategori Penerimaan

Untuk memudahkan pemahaman, Joshua Treviño memetakan enam tingkat penerimaan ide publik:

  • Unthinkable (Tak Terpikirkan): Ide yang sama sekali di luar kesadaran atau dianggap sangat tabu.
  • Radical (Radikal): Ide yang sudah dikenal, tetapi sangat kontroversial dan hanya didukung oleh segelintir orang.
  • Acceptable (Dapat Diterima): Ide yang mulai diperbincangkan secara serius, meski belum populer.
  • Sensible (Masuk Akal): Ide yang dirasa logis dan mulai mendapatkan dukungan publik yang signifikan.
  • Popular (Populer): Ide yang didukung oleh banyak orang dan menjadi arus utama.
  • Policy (Kebijakan): Ide yang telah diadopsi menjadi hukum atau kebijakan resmi.

Overton Window biasanya mencakup ide-ide dari kategori "Acceptable" hingga "Policy". Proses menggeser jendela berarti mengupayakan agar suatu ide bergerak secara bertahap dari kiri (radikal) ke kanan (kebijakan) spektrum ini.

Mekanisme Pergeseran Jendela

Penting untuk dicatat bahwa menurut Joseph Lehman, kolega Overton, para pembuat hukum (lawmakers) bukanlah penggeser utama jendela ini. Tugas mereka adalah mendeteksi di mana posisi jendela itu, lalu mengambil posisi yang sesuai dengannya. Lalu, siapa yang menggeser?

Jendela bergeser berdasarkan fenomena yang lebih kompleks dan dinamis: evolusi lambat nilai dan norma masyarakat. Proses ini didorong oleh berbagai institusi sosial seperti keluarga, tempat kerja, media, gereja/lembaga keagamaan, asosiasi sukarela, think tank, dan sekolah. Artinya, perubahan wacana adalah kerja budaya dan pemikiran jangka panjang yang dilakukan oleh masyarakat sipil.

Contoh Historis:

  • Larangan Alkohol (Prohibition) di AS: Pada awal abad ke-20, larangan total alkohol berada di dalam jendela dan menjadi amandemen konstitusi. Kini, ide itu berada sangat jauh di luar jendela.
  • Pernikahan Sesama Jenis: Di banyak negara Barat, ide ini bergerak dari "Radical" menjadi "Policy" dalam beberapa dekade.
  • Brexit: Gagasan Inggris meninggalkan Uni Eropa bergeser dari pinggiran wacana menjadi kenyataan politik setelah referendum 2016.

Tata Kelola dan Strategi Organisasi NU: Fondasi Pengaruh

Sebelum menganalisis bagaimana NU berinteraksi dengan Overton Window, kita perlu memahami struktur dan strategi organisasi yang menjadi fondasi kapasitasnya. Sebagai organisasi massa Islam terbesar, NU memiliki sistem tata kelola yang kompleks dan strategi jangka panjang yang tertanam dalam visi keagamaan dan kebangsaannya.

Model Tata Kelola dan Prinsip Dasar

Penelitian oleh Mohammad Khusnu Milad (2024) menyoroti bahwa NU menjalankan strateginya dengan menerapkan model tata kelola organisasi yang khas, yang mampu menjaga keragaman substansi serta pandangan hukum Islam (fiqh) yang diyakininya. Model ini tidak sentralistik mutlak, tetapi juga tidak terfragmentasi. Kepemimpinan di tingkat Pusat (PBNU) berjalan beriringan dengan otonomi yang kuat di tingkat Cabang (PCNU) dan Ranting (PRNU), memungkinkan respons yang kontekstual terhadap isu lokal tanpa meninggalkan koridor ideologis utama.

Prinsip utama yang mendasari tata kelola ini adalah Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) dengan paradigma al-Muwāthaṇah (kebangsaan), al-Tawassuṭ (moderasi), al-Tawāzuṇ (keseimbangan), dan al-I‘tidāl (keadilan). Prinsip inilah yang menjadi kompas bagi setiap gerakan dan pernyataan politik NU.

Pilar-Pilar Strategi Modernisasi

Untuk menjaga eksistensi dan relevansinya, penelitian yang sama menunjukkan bahwa NU menggerakkan organisasi melalui beberapa strategi modernisasi yang solid:

  • Strategi Pendidikan: melalui jaringan pesantren, ma'had, dan lembaga pendidikan formal dari TK hingga perguruan tinggi. Ini adalah knowledge factory NU yang mencetak kader dan menyebarkan narasi.
  • Strategi Media dan Komunikasi: dengan mengembangkan media milik sendiri (seperti NU Online, TVNU) serta aktif mengisi ruang publik di media arus utama. Ini adalah amplifier bagi pesan-pesan NU.
  • Strategi Kemitraan dan Toleransi: dengan membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, organisasi keagamaan lain, maupun lembaga masyarakat sipil, untuk mendorong agenda bersama.

Strategi-strategi inilah yang membentuk infrastruktur kultural yang kuat, memungkinkan NU tidak hanya merespons wacana, tetapi juga membentuk dan menggesernya.

Politik Substantif NU: Menggeser Jendela Wacana Kebangsaan

Dalam konteks politik praktis, NU telah secara jelas mendefinisikan posisinya. Pasca Muktamar Situbondo 1984, NU secara resmi keluar dari politik praktis (tidak lagi menjadi partai politik) dan menganut prinsip equidistance—menjaga jarak yang sama dari semua kekuatan politik. Meski kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 1998 menciptakan kecondongan emosional, secara kelembagaan PBNU konsisten tidak memberikan dukungan resmi kepada partai atau calon tertentu.

Dari Politik Praktis ke Politik Tinggi (al-Siyasah al-Samiyah)

Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, menegaskan dua sikap pokok: (1) netralitas institusional, dan (2) peringatan untuk tidak jatuh pada jebakan politik identitas yang eksploitatif dan destruktif. Inilah yang oleh almarhum Rais Aam PBNU KH. Sahal Mahfudz (memimpin periode 1999 hingga 2014) disebut sebagai al-siyasah al-samiyah atau politik tinggi.

Politik tinggi ini adalah politik yang berfokus pada substantif dan kemaslahatan luas, bukan perebutan kekuasaan. Dengan kata lain, NU memilih untuk bermain di tingkat pengaturan wacana (setting the discourse), bukan di tingkat perebutan kursi. Ini adalah posisi strategis untuk mempengaruhi Overton Window.

Bagaimana NU Menggeser Jendela Wacana?

Dengan infrastruktur kultural yang kuat dan komitmen pada politik substantif, NU melakukan beberapa mekanisme untuk menggeser batas wacana yang diterima publik:

Legitimasi melalui Otoritas Keagamaan: Sebagai otoritas keagamaan Sunni terbesar, fatwa, pernyataan, atau sikap para kiai NU memiliki bobot moral yang besar. Ketika suatu ide—seperti toleransi beragama atau perlindungan minoritas—mendapatkan legitimasi keagamaan dari NU, ide itu dengan cepat bergerak dari kawasan "acceptable" menuju "sensible" atau "popular" dalam masyarakat Muslim Indonesia.

Penyaringan (Framing) Isu Kompleks: NU sering kali menerjemahkan isu-isu politik modern yang kompleks ke dalam bahasa dan konsep fiqh yang mudah dipahami basisnya (seperti konsep maslahah 'ammah, hifdz al-din, hifdz al-wathan). Proses framing ini membuat wacana tertentu menjadi lebih mudah dicerna dan diterima.

Pelebaran Jendela dari Tengah: Alih-alih mengusung ide yang sangat radikal, NU sering kali berfungsi sebagai penjaga dan pelebar pusat spektrum (moderate center). Dengan menegaskan prinsip moderasi (wasathiyah), NU memperluas ruang untuk ide-ide yang inklusif dan menolak narasi-narasi ekstrem dari kanan maupun kiri, sehingga "bagian tengah" yang dapat diterima menjadi lebih luas.

Pendidikan dan Kaderisasi Berkelanjutan: Melalui pesantren dan lembaga pendidikan, NU menanamkan nilai-nilai dasar Aswaja dan kebangsaan kepada jutaan santri secara turun-temurun. Ini adalah kerja paling fundamental dalam membentuk common sense atau nalar publik yang menjadi dasar Overton Window suatu masyarakat.

Tabel: Strategi NU dalam Menggeser Overton Window

Strategi NU Instrumen yang Digunakan Efek terhadap Overton Window
Legitimasi Keagamaan Fatwa, pernyataan resmi, khutbah kiai. Menaikkan status penerimaan suatu ide dari "radikal/acceptable" menjadi "sensible/popular".
Penyaringan (Framing) Fiqh Diskusi bahtsul masail, literatur kitab kuning, ceramah. Menerjemahkan ide baru ke dalam kerangka nilai lama, mempercepat adopsi dan mengurangi penolakan.
Pelebaran Pusat Spektrum Kampanye moderasi, penolakan keras terhadap radikalisme. Memperluas rentang ide "yang dapat diterima" di tengah spektrum dan menyempitkan ruang ekstrem.
Pendidikan Jangka Panjang Jaringan pesantren, sekolah, kursus. Membentuk nalar publik dan nilai dasar masyarakat yang menjadi fondasi jendela wacana.
Kemitraan Strategis Dialog antariman, kerja sama dengan pemerintah dan NGO. Membangun konsensus lintas kelompok, mendorong ide inklusif masuk ke arus utama kebijakan.

Studi Kasus: NU dan Wacana Kebangsaan Pasca-Reformasi

Untuk melihat teori dalam aksi, mari kita ambil contoh konkret: wacana negara bangsa (nation-state) versus khilafah dalam beberapa tahun terakhir.

Awal 2000-an

Gagasan formalisasi syariah atau pendirian khilafah mulai disuarakan oleh kelompok tertentu pasca Reformasi. Saat itu, wacana ini, meski tidak populer, mulai masuk ke ruang publik dan mendapat pijakan tertentu ("radical" mendekati "acceptable").

Respon NU

NU, melalui berbagai kanalnya, baik tulisan para intelektualnya, ceramah kiai, hingga keputusan bahtsul masail, dengan tegas menegaskan komitmen pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila sebagai final. NU memberikan argumentasi teologis bahwa bentuk nation-state adalah kontekstual dan membawa maslahat. Muktamar NU di Situbondo (1984) sebenarnya telah meletakkan fondasi ini dengan sangat jelas.

Hasil: Otoritas keagamaan NU yang massif berhasil mengkonsolidasikan kembali kesadaran kebangsaan umat Islam Indonesia. Gagasan khilafah sebagai alternatif politik terdepak kembali ke pinggiran spektrum ("unthinkable/radical") bagi mayoritas Muslim. Sebaliknya, wacana Islam yang moderat, toleran, dan pro-kebangsaan semakin menguat dan menjadi arus utama ("popular" hingga "policy"). Ini adalah contoh nyata bagaimana NU berperan aktif meminggirkan suatu ide dari jendela sekaligus mengukuhkan ide lain di dalamnya.

Tantangan dan Kritik: Overton Window dalam Demokrasi Digital

Tidak ada model yang sempurna. Konsep Overton Window juga mendapat kritik, terutama kemampuannya menggambarkan politik kontemporer. Beberapa kritikus berpendapat bahwa dalam masyarakat yang terpolarisasi seperti sekarang, mungkin ada dua jendela Overton yang terpisah untuk kiri dan kanan, tanpa "tengah" yang sama. Selain itu, era media digital dan media sosial mempercepat siklus wacana secara dramatis. Sebuah ide bisa meloncat dari "unthinkable" menjadi viral dan diperdebatkan secara nasional dalam hitungan hari, memendekkan proses "evolusi lambat" yang digambarkan teori awal.

Ini menjadi tantangan bagi NU. Jika sebelumnya pesantren dan majelis taklim adalah arena utama pembentukan wacana, kini pertarungan terjadi di timeline media sosial yang cepat, fragmentatif, dan seringkali emosional. Kemampuan beradaptasi dengan logika baru ini—tanpa meninggalkan kedalaman substansi—adalah ujian bagi strategi komunikasi NU ke depan.

Refleksi untuk Warga NU

Overton Window mengajarkan pada kita bahwa politik yang paling berpengaruh seringkali adalah politik gagasan, yang terjadi jauh sebelum pemungutan suara. NU, dengan pilihannya untuk berfokus pada politik tinggi (al-siyasah al-samiyah), telah menempatkan diri secara tepat sebagai aktor kunci dalam medan pertarungan wacana ini. Melalui otoritas keagamaan, infrastruktur pendidikan, dan komitmen pada nilai substantif, NU secara konsisten mengupayakan agar jendela wacana publik Indonesia bergeser dan terbuka lebar untuk ide-ide yang memelihara kemaslahatan umum, menjaga keutuhan bangsa, dan mempromosikan Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Sebagai warga NU, pemahaman ini mendorong kita untuk:

  • Sadar akan peran strategis yang kita emban, bukan hanya sebagai pemilih pasif, tetapi sebagai agen-agen budaya yang aktif membentuk nalar publik.
  • Terlibat dalam penguatan wacana-wacana substantif, baik di lingkungan keluarga, komunitas, maupun di ruang digital, dengan berbasis pada khazanah keilmuan Aswaja.
  • Kritis terhadap jebakan politik identitas yang berusaha menyempitkan wacana menjadi sekadar hitam-putih dan mengabaikan kemaslahatan bersama.

Pertarungan untuk Indonesia yang moderat dan toleran tidak hanya dimenangkan di bilik suara, tetapi lebih dahulu di ruang kesadaran dan percakapan kita sehari-hari. NU telah memberikan peta dan kompasnya. Kini, tugas kita bersama untuk berlayar.

Mari terus berdialog, merefleksikan, dan membangun wacana kebangsaan yang sehat. Bagikan pemikiran dan pengalaman Anda dalam mengadvokasi nilai-nilai NU di komunitas Anda pada kolom komentar di bawah.

Referensi

[1] Mackinac Center for Public Policy. "A Brief Explanation of The Overton Window." [Online].

[2] Wikipedia. "Overton window." [Online].

[3] M. K. Milad, “Sistem organisasi dan manajemen strategi Nahdlatul Ulama dalam eksistensinya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” Doktoral, STIESIA Surabaya, 2024. [Online].

[4] U. A. Abdalla, “Politik Nahdlatul Ulama,” Kompas.id, 2023. [Online].

[5] CIVICUS. "Participatory Governance Toolkit." [Online].

[6] Encyclopædia Britannica. "Overton window." [Online].

Oleh: Divisi Politik, Hukum dan HAM
Disetujui oleh: Pimpinan Redaksi Cherbon News

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama